Mobil Ramah Lingkungan : Dilematis Infrastruktur dan Harga Jual

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

AutoPlusID.com – Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kementrian ESDM telah memastikan bahwa di tahun 2040 mobil dengan bahan bakar fossil akan dilarang beredar di jalanan Indonesia dan digantikan perannya dengan kendaraan hibrida maupun kendaraan bertenaga listrik. Menteri Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan yanh mengusulkan pelarangan penjualan kendaraan bahan bakar fosil di Indonesia mulai 2040 mendatang. Saat ini, Negara-negara maju sedang berlomba-lomba untuk memperluas jangkauan teknologi masa depan yang terelektrifikasi ini dan betapa mereka sudah memikirkan keberlanjutan dari masyarakatnya di masa mendatang. Berbeda dengan Indonesia yang justru menerapkan pajak barang mewah pada kendaraan elektrik dan hibrida yang notabene harusnya mendapatkan insentif dari pemerintah. Walaupun begitu, nyatanya di 2018 mendatang kita sudah memulai tahapan dimana Emisi Euro 4 akan diterapkan di Indonesia yang dimana penerapannya sudah sangat terlambat karena Negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Thailand sudah menerapkannya terlebih dahulu, bahkan di Singapura sekalipun, 2018 mereka sudah memulai Euro6 yang dimana Singapura adalah Negara dengan standar emisi tertinggi di wilayah Asia Tenggara.

Jangankan melihat Negara Maju, dengan tetangga saja kita sudah sangat terlambat dengan tingkat keterlaluan yang sangat tinggi, karena minimnya kepedulian pemerintah terhadap sustainability industri otomotif Tanah Air yang sudah sepantasnya kita melaju lebih jauh di jalur yang tepat. Saat ini, pemerintah sedang menggodok terkait regulasi mengenai penyesuaian standar emisi dan mobil ramah lingkungan agar memiliki harga yang kompetitif bahkan harga jualnya sekalipun sejajar dengan kendaraan dengan mesin konvensional.

Di Indonesia harga jual kendaraan ramah lingkungan bagi kami sangat tidak bersahabat lihat saja, Harga Toyota Camry tipe Hybrid dengan harga hampir 780 juta, bandingkan dengan tipe 2.5 V bensin dengan harga 615 juta. Dengan melihat perbedaan harga yang sangat jauh seakan-akan membuat mobil hibrida menjadi barang mahal. bedakan dengan Thailand yang menjadi basis produksinya, Camry Hybrid dibanderol seharga 1,659.000 baht (667 jutaan rupiah) dan tipe 2.5 G dengan harga 1.599.000 baht (643 jutaan rupiah) atau dengan perbedaan sebanyak 60.000 baht (24 jutaan rupiah). Lihat saja perbedaan harga yang disebabkan oleh pajak membuat perbedaan harga yang hanya 24 juta rupiah saja menjadi 165 juta. Kebayang kan, betapa tingginya pajak kendaraan hibrida di Indonesia.

Dengan melihat perbandingan tersebut rasanya dalam beberapa tahun mendatang perbedaan harga tersebut akan terkikis serendah-rendahnya mengingat penerapan Carbon Tax akan mengelastiskan harga kendaraan Hibrida dan kendaraan dengan tenaga energi terbarukan yang lainnya. Penerpan tersebut nantinya,  akan membuat perbedaanya juga tidak akan menyentuh sepuluh persen dari harga jual mobil.

Secerah asa dan harapan pun memanggil APM untuk segera mengeluarkan teknologi ramah lingkungan mereka dan diharapkan konsumen ikut merasakan dan menggunakannya, belum lagi adanya dorongan pemerintah dan pembangunan infrastruktur secara berkelanjutan akan menjadi peluang besar akan banyaknya kendaraan ramah lingkungan. Kami sangat berharap stasiun pengisian listrik terus ditambah jumlahnya bahkan sebisa mungkin ada dalam radius tertentu sebagaimana kesiapan infrastruktur mempengaruhi keputusan dalam pembelian kendaraan ramah lingkungan.

About Reyhan Apriathama 89 Articles
Seorang Test Driver penggemar yang suka dengan German Engineering dan masih berstatus single. Suka banget sama SUV dan Double Cabin apalagi buat kepentingan roadtrip.